Saturday, 7 November 2015

Komponen-komponen Kurikulum



KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM




Disusun Oleh :
Kelompok II 15 D

Fitri Hermawati
Muh. Ilham Hasan hamid
Nina Ayu Risna
Nur Ayustira J
Rizka Haryanti


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015





KATA PENGANTAR
            Puji syukur atas kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Komponen-Komponen Kurikulum”. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan dalam menyelesaikan makalah ini.
            Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.









Makassar, 18 Oktober 2015

Penyusun       

 





BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kurikulum sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada kurikulum. Begitu pentingnya kurikulum sebagaimana sentra kegiatan pendidikan, maka didalam penyusunannya memerlukan landasan atau fondasi yang kuat, melalui pemikiran dan penelitian secara mendalam
Pada dasarnya kurikulum merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Komponen-komponen kurikulum suatu lembaga pendidikan dapat diidentifikasi dengan cara mengkaji buku kurikulum lembaga pendidikan itu. Dari buku kurikulum tersebut kita dapat mengetahui fungsi suatu komponen kurikulum terhadap komponen-komponen kurikulum yang lain.
Melihat bahwa sangat pentingnya komponen-komponen dalam kurikulum maka terciptalah makalah ini, dengan harapan dapat memberikan pengetahuan bagi pembaca khususnya para guru.
B.       Rumusan masalah
1.    Apa tujuan dari kurikulum?
2.    Bagaimana menentukan materi pembelajaran dalam kurikulum?
3.    Bagaimana menentukan strategi pembelajaran?
4.    Apa saja ragam pengorganisasian kurikulum?
5.    Apa tujuan mengevaluasi kurikulum?


C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui tujuan dari kurikulum.
2.      Untuk mengetahui cara menentukan materi pembelajaran dalam kurikulum.
3.      Untuk mengetahui cara menentukan strategi pembelajaran.
4.      Untuk mengetahui ragam pengorganisasian kurikulum.
5.      Untuk mengetahui tujuan mengevaluasi kurikulum.




BAB II
PEMBAHASAN

A.  Tujuan Kurikulum

Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia, hampir di setiap negara telah mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan, melalui berbagai ragam teknis penyelenggaraannya, yang disesuaikan dengan falsafah negara, keadaan sosial-politik kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. Dalam dunia pendidikan, kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya. Kurikulum itu sendiri memiliiki beberapa tujuan, diantaranya :
1.    Tujuan Pendidikan Nasional (TPN)
Tujuan pendidikan nasional (TPN) adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat nasional. TPN merupakan sasaran yang harus di jadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan, artinya setiap lembaga dan penyelenggaraan itu baik pendidikan yang di selenggarakan oleh lembaga pendiddikan formal, informal maupun nonformal.
Secara jelas tujuan Pendidikan Nasional yang bersumber dari sitem nilai pancasila di rumuskan dalam undang-undang No.20 tahun 2003 pasal 3, yang merumusakan bahwa pendidkan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


2.    Tujuan Institusional (TI)

Tujuan Institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dengan kata lain tujuan ini dapat didefinisikan sebagai kualifikasi yang harus di miliki oleh setiap siswa setelah mereka menempuh atau dapat menyelesaikan program di suatu lembaga pendidikan tertentu. Tujuan Institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang di rumuskan dalam bentuk kompetisi lulusan setiap jenjang pendidikan. Seperti misalnya Standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan dan jenjang pendidikan tinggi.
Berikut contoh tujuan institusinal, seperti yang tertuang dalam peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar nasional pendidikan Bab 5 pasal 26 yang menjelaskan bahwa Standar Kompetensi Lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetauan, kepribadian,akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

3.    Tujuan Kurikuler (TK)

Tujuan kurikuler adalah tujuan yang harus di capai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler dapat di definisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler juga pada dasarnya merupakan tujuan untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikan, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan konstisional.
Pada peraturan pemerintah No 19 tahun 2005 tntang Standar Nasional pendidikan pasal 6 dinyatakan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan menengah terdiri atas:
a.    Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia.
b.    Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan keprinabian.
c.    Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
d.   Kelompok mata pelajaran estetika.
e.    Kelompok mata pelajaran jasmani,olahraga dan kesehatan.
Badan standar nasional pendidikan kemudian merumuskan tujuan setiap kelompok mata pelajaran sesuao dengan peraturan pemerintah No 19 tahun 2005 sebagai berikut;
a.    Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia yang brrtujuan bertakwa kepada tuhan yang maha esa serta berahlak mulia.tujuan tersebut di capai melalui muatan dan atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan ternologi, estetika, jasmani, olahraga dan kesehatan.
b.    Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
c.    Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi bertujuan mengembangkan logika,kemampuan berfikir dan aanlisis peserta didik.
d.   Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/paket A.B,C. tujuan ini dicapai melalui muatan  daan atau kegiatan bahasa, matematika, IPA, IPS, keterampilan/kejuruan, dan atau teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan. 
e.    Pada satuan pendidikan SMK/MAK, tujuan ini di capai melalui muatan dan atau kegiatan bahasa, matematika, IPA, IPS, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi serta muatan lokal yang relevan.
f.     Kelompok mata pelajaran estetika bertujuan membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya.tujuan ini di capai melalui muatan dan kegiatan bahsa, seni budaya,keterampilan,dan muatan lokal yang relevan.
g.    Kelompok mata pelajran jasmani,olahraga dan kesehtan bertujuan mambentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan rohani.


4.    Tujuan Pembelajaran atau Instruksional (TP)
Tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran, yakni tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat pengajaran.. Tujuan pembelajaran adalah kemampuan atau keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses merupakan syarat mutlak bagi guru.

B.  Materi pembelajaran

Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Fuaduddin mengemukakan beberapa kriteria yang digunakan untuk menyusun materi kurikulum, sebagai berikut:
a.    Continuitas (kesinambungan)
b.     Sequences (urutan)
c.    Intergration (keterpaduan)
d.   Flexibility (keluesan atau kelenturan)
Yang diprogramkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan disusun sedemikian rupa sesuai dengan Scope dan Scuece-nya. Isi atau materi tersebut biasanya berupa materi mata pelajaran, seperti pendidikan agama Islam, yang meliputi hadits, fiqh, tarikh, bahasa arab dan lain sebagainya. Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme, essensialisme, eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis, dalam bentuk :
  1. Teori; seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.
  2. Konsep; suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan, merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.
  3. Generalisasi; kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat atau pembuktian dalam penelitian.
  4. Prinsip; yaitu ide utama, pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.
  5. Prosedur; yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.
  6. Fakta; sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, terdiri dari terminologi, orang dan tempat serta kejadian.
  7. Istilah, kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.
  8. Contoh/ilustrasi, yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.
  9. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya.
  10. Preposisi, yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut :
1.    Sahih (valid); dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya.
2.    Tingkat kepentingan; materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari.
3.    Kebermaknaan; materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non akademis. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
4.    Layak dipelajari; materi memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat.
5.    Menarik minat; materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut, menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka.
Isi / materi kurikulum hakikatnya adalah semua kegiatan dan pengalaman yang dikembangkan dan disusun untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara umum isi kurikulum itu dapat dikelompokan menjadi :
a.    Logika, yaitu pengetahuan tentang benar salah berdasarkan prosedur keilmuan.
b.    Etika, yaitu pengetahuan tentang baik buruk, nilai dan moral
c.    Estetika, pengetahuan tentang indah-jelek, yang ada nilai seninya.
Pengembangan materi kurikulum harus berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.    Mengandung bahan kajian yang dapat dipelajari siswa dalam pembelajaran.
b.    Berorientasi pada tujuan, sesuai dengan hirarki tujuan pendidikan.


C.  Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran sangat penting dikaji dalam studi tentang kurikulum, baik secara makro maupun mikro. Strategi pembelajaran berkaitan dengan cara atau sistem penyampaian isi kurikulum dalam rangka  penyampaian tujuan yang telah dirumuskan. Sujana (dalam A. Herry dkk 2003 : 1.23) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran pada hakikatnya adalah tindakan nyata dari guru dalam melaksanakan pembelajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien. Tinggi rendahnya kadar aktivitas belajar siswa banyak dipengaruhi oleh strategi atau pendekatan mengajar yang digunakan.
Richard Anderson (dalam A. Herry dkk. 2003 : 1.23) mengajukan dua pendekatan yaitu  pendekatan yang berorientasi pada guru, dimana aktivitas guru dalam suatu  proses pembelajaran lebih dominan dibandingkan siswa. Pendekatan kedua lebih berorientasi pada siswa yang merupakan kebalikan dari pendekatan  pertama dimana aktivitas siswa lebih dominan dalam aktivitas pembelajaran. Sedangkan Massialas ( dalam A. Herry dkk. 2003 : 1.24) mengajukan dua  pendekatan, yaitu pendekatan ekspositori dan pendekatan inkuiri. Sementara itu, Sudjana ( dalam A. Herry dkk 2003 : 1.24) mengemukakan model CBSA yaitu model delikan (dengar - lihat - kerjakan),  model pemecahan masalah, model induktif, model deduktif, dan model deduktif induktif.
D. Organisasi Kurikulum
Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum, yaitu:
  1. Mata pelajaran terpisah (isolated subject); kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik, semua materi diberikan sama
  2. Mata pelajaran berkorelasi; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.
  3. Bidang studi (broad field); yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”, dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut.
  4. Program yang berpusat pada anak (child centered), yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.
  5. Inti Masalah (core program), yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah, dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.
  6. Ecletic Program, yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik.
Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik, yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran, yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) kelompok mata pelajaran estetika; dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu, yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. Di samping itu, untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri.
E.  Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum adalah suatu proses evaluasi terhadap kurikulum secara keseluruhan baik yang bersifat makro atau ruang lingkup yang luas (ideal curriculum) maupun lingkup mikro (actual curriculum) dalam bentuk pembelajaran. Evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan.
1.    Untuk perbaikan program
Bersifat konstruktif, karena informasi hasil evaluasi dijadikan input bagi perbaikan yang diperlukan di dalam program kurikulum yang sedang dikembangkan.
2.    Pertanggungjawaban kepada berbagai pihak
Diperlukan semacam pertanggungjawaban dari pihak pengembang kurikulum. Pihak tersebut baik yang mensponsori kegiatan pengembangan kurikulum maupun pihak yang akan menjadi konsumen dari kurikulum yang telah dikembangkan.
3.    Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan
Tindak lanjut hasil pengembangan kurikulum dapat berbentuk jawaban atas dua kemungkinan pertanyaan : pertama, apakah kurikulum baru tersebut akan atau tidak akan disebar luaskan ke dalam sistem yang ada? Kedua, dalam kondisi yg bagaimana dan dengan cara yang bagaimana pula kurikulum baru tersebut akan disebarluaskan ke dalam sistem yang ada? Dan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam menjawab pertanyaan diperlukan kegiatan evaluasi kurikulum.
Aspek-aspek yang harus dievaluasi, menurut Arich Lewy sesuai dengan tahap-tahap dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
a.    Penentuan tujuan utama
b.    Perencanaan
c.    Uji-coba dan revisi
d.   Uji lapangan
e.    Pelaksanaan kerikulum
f.     Pengawasan mutu
  


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan

Sebagai suatu sistem, kurikulum mempunyai komponen-komponen atau bagian-bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum menyediakan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk mengalami proses  pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai tujuan dalam pendidikan.

B.  Saran
Satuan pendidikan harus dapat memastikan bahwa kurikulum yang telah di siapkan harus mengandung komponen tujuan, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, organisasi kurikulum, dan terakhir melakukan evaluasi terhadap kurikulum.
















DAFTAR PUSTAKA

Fatoni, B. (2013, September 24). Tujuan Kurikulum. Dipetik Oktober 18, 2015, dari Makalah & Download Film: http://bagusizza.blogspot.co.id/2013/09/tujuan-kurikulum.html
Siswoyo, R. (2013, Desember 7). Makalah Komponen-Komponen Kurikulum. Dipetik Oktober 18, 2015, dari Gudang Ilmu: http://rudisiswoyo89.blogspot.co.id/2013/12/makalah-komponen-komponen-kurikulum.html
Sudrajat, A. (2008, Januari 22). Komponen-Komponen Kurikulum. Dipetik Oktober 18, 2015, dari Tentang Pendidikan: https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/22/komponen-komponen-kurikulum/
Syafriyanti, I. (t.thn.). Komponen-Komponen Pengembangan Kurikulum. Dipetik Oktober 22, 2015, dari Academia: http://www.academia.edu/9065751/KOMPONEN-KOMPONEN_PENGEMBANGAN_KURIKULUM




Puisi Raditya Dika "Kepada Kamu dengan Penuh Kebencian"


Berhubung lagi seneng dan terinspirasi sama penulis novel + stand up comedian yang satu ini, jadi nyempetin buat ngubek-ngubek blognya dan nemu salah satu puisinya. Langsung saja, Cekidott!

"Kepada Kamu Dengan Penuh Kebencian"


Kepada kamu,
Dengan penuh kebencian.

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu..., tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, "Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common," harus dimentahkan oleh hati yang berkata, "Jangan hiraukan logikamu."

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan...

aku takut sendirian.

Tutorial Membuat Daftar pustaka Otomatis di Ms.Word

 
 
Kali ini saya akan sedikit berbagi turorial membuat daftar pustaka secara otomatis dengan memanfaatkan fasilitas dari MS.Word 2007.
Semoga bermanfaat. Cekidott!! ^^


1. Tentunya kita perlu masuk dulu ke dokumen MS. Word, caranya:
Klik start → pilih all program → pilih Microsoft Office → pilih Microsoft Office Word

2. Pilih references 
 
 
3. Klik Manage Sources lalu klik New
 
 
4. Setelah itu akan muncul laman seperti dibawah. Pilihlah sumber referensi yang akan kalian gunakan pada Type of Source baik buku, web site, jurnal,dll. Kemudian isi keterangan yang diperlukan.
 
 
5. Pilih Bibliography kemudian Klik Insert Bibliography 
 
 
6. Selesai. Selamat mencoba ^^  
 
  

Monday, 2 November 2015

Sang pengembara dalam penantiannya







Dengan langkah kaku
Sang pengembara rindu
Menapaki samudra ruang dan waktu
Meski yang dinanti tak kunjung temu

by: Fitri Herma

Friday, 30 October 2015

Puisi Senja



Jangan kau risau
Sebab kepada senja di sore itu
Telah aku rangkai sebait rindu
Meski berirama sedikit sendu

by : v3 Herma

Thursday, 29 October 2015

REVIEW HAKIKAT PENDIDIKAN IPS

Assalamualaikum..
Kali ini saya akan berbagi kepada kalian khususnya buat mahasiswa jurusan PGSD. ^^
Check this out!




REVIEW HAKIKAT PENDIDIKAN IPS
Oleh Dr. Sapriya, M.Ed.



Disusun Oleh :
Nama        : Fitri Hermawati
Kelas         : ID
Nim           : 10540967215

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015



KATA PENGANTAR
            Puji syukur atas kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Review Hakikat Pendidikan IPS”. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan kepada saya dalam menyelesaikan makalah ini.
            Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh sebab itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Saya berharap makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca.









Makassar, 26 Oktober 2015

Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) merupakan dua istilah yang sering mengalami kekeliruan dalam memaknainya. Hal ini dikarenakan, karena dua istilah ini belum dipahami betul oleh civitas akademika karena masih terbatasnya literatur yang menjelaskan kedua istilah tersbut. Karena keterbatasan literatur tersebut maka maka ini disusun agar mahasiswa memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat dan pengertian IPS dan pendidikan IPS.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apakah perbedaan istilah IPS dan Pendidikan IPS?
2.    Bagaimana perkembangan Pengertian IPS?
3.    Apa pengertian Pendidikan IPS dalam konteks Indonesia?
4.    Apa yang dimaksud PIPS sebagai pendidikan disiplin ilmu?
5.    Apakah landasan pendidikan IPS?

C.    Tujuan
1.    Untuk mengetahui perbedaan istilah IPS dan Pendidikan IPS
2.    Untuk mengetahui perkembangan Pengertian IPS
3.    Untuk mengetahui pengertian Pendidikan IPS dalam konteks Indonesia
4.    Untuk mengetahui maksud PIPS sebagai pendidikan disiplin ilmu
5.    Untuk mengetahui landasan pendidikan IPS



BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN PENDIDIKAN IPS
1.    Istilah IPS dan Pendidikan IPS
Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Pendidikan Ilmu pengetahuan Sosial ternyata sering mengalami perbedaan  persepsi dalam penggunaannya. Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi yang memasyarakatkan kedua istilah tersebut. Dalam dokumen kurikulum 1975, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pertama kali digunakan sebagai salah satu mata pelajaran  yang diajarkan pada tingkat dasar dan menengah. IPS merupakan  mata pelajaran intergasi (terpadu) dari beberapa mata mata pelajaran seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sebagainya. Sifat yang terpadu ini bertujuan agar lebih me               mudahkan peserta didik dalam memahami bahan materi yang diberikan karena telah disederhanakan dan sesuaikan dengan kebutuhan dan  karakteristik peserta didik. Menurut Prof. Nu’man Somantri, Pendidikan IPS merupakan akibat dari istilah IPS, agar dapat dibedakan dengan pendidikan IPS sebagai disiplin ilmu yang digunakan pada tingkat universitas.

2.    Perkembangan Pengertian IPS
Perkembangan pengertian IPS diutarakan oleh Saxe dalam bukunya yang berjudul Social Studies in Schools : A History of The early Years.
Ø 1896-1897, The National Herbart Society papers of 1896-1897 menegaskan bahwa Sosial Studies sebagai upaya untuk membatasi ilmu-ilmu sosial untuk penggunaan secara pedagogik.
Ø 1913, dalam dokumen Statement of the Chairman of Committee on Social Studies dinyatakan bahwa Social Studies sebagai bidang khusus dalam pemanfaatan data ilmu-ilmu sosial sebagai tenaga dalam memperbaiki kesejahteraan umat manusia.
Ø 1921, terbentuk sebuah organisasi profesional yakni National Council for the Social Studies (NCSS) yang secara khusus membina dan mengembangkan Social Studies pada tingkat pendidikan dasar dan menengah serta keterkaitannya dengan disiplin ilmu lainnya. NCSS adalah organisasi yang akan memaksimalkan hasil-hasil pendidikan bagi tujuan-tujuan kewarganegaraan.
Ø 1935, NCSS menegaskan bahwa IPS sebagai inti dari kurikulum
Ø 1937, Weysley menyatakan bahwa Social Studies adalah ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan.
Ø 1993, Social Studies adalah studi terpadu dari ilmu sosial dan humaniora untuk mempromosikan kompetensi sipil. Dalam program sosial, studi sosial terkoordinasi, menggambar studi sistematis pada disiplin sebagai antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu politik, pshicology, agama, dan sosiologi, serta konten yang sesuai dari humaniora, matematika dan ilmu alam. Tujuan utama dari ilmu sosial adalah untuk membantu orang muda mengembangkan kemampuan untuk membuat keputusan dan beralasan untuk kepentingan publik sebagai warga budaya yang beragam, masyarakat demokratis di dunia. Definisi ini adalah definisi yang paling lengkap yang dikeluarkan oleh NCSS.
Adanya perbedaan definisi tersebut menjadikan PIPS terbagi menjadi dua yaitu PIPS sebagai mata pelajaran dan PIPS sebagai kajian akademik.

3.    Pengertian Pendidikan IPS dalam konteks Indonesia
Di Indonesia pengertian Pendidikan IPS mengalami berbagai perbedaan persepsi. Prof. Nu’man Somantri sendiri mendefinisikan Pendidikan IPS ke dalam dua jenis.
1)   Pengertian Pendidikan IPS yang berlaku untuk pendidikan dasar dan menengah adalah penyederhanaan/adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.
2)   Pengertian Pendidikan IPS yang berlaku untuk perguruan tinggi adalah seleksi dari disiplin  ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan.
Kata penyederhanaan dan seleksi pada kedua pengertian tersebut mengandung makna bahwa tingkat kesukaran PIPS di tingkat dasar dan menengah berbeda dengan tingkat kesukaran PIPS di perguruan tinggi.

4.    PIPS sebagai Pendidikan Disiplin Ilmu
Pendidikan IPS sebagai pendidikan disiplin ilmu pertama kali diperkenalkan oleh Numan Somantri pada tahun 1970-an. Sebagai pendidikan disiplin ilmu, PIPS memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan disiplin ilmu lainnya. Hal ini terlihat dari cakupan materinya yang semakin kompleks sehingga membutuhkan integrasi dari disiplin ilmu lainnya. Di Indonesia sendiri PIPS telah berkembang dan kini memiliki lima tradisi yaitu IPS sebagai transmisi kewarganegaraan, IPS sebagai ilmu-ilmu sosial, IPS sebagai penelitian mendalam, IPS sebagaikritik kehidupan sosial, IPS sebagai pengembangan pribadi individu. Berdasarkan lima tradisi tersebut, menunjukkan bahwa IPS bukan hanya dikembangkan di tingkat dasar dan menengah melainkan juga di tingkat perguruan tinggi. Sebagai pendidikan disiplin ilmu, PIPS menurut Dufty memiliki beberapa karakteristik yaitu: (1) community of scholars (2)  a body of thinking, speaking, writing by these scholars (3) a method of approach to knowledge.  

LANDASAN PENDIDIKAN IPS
PIPS tentunya memiliki landasan dalam pengembangan yang diharapkan dapat memberikan pemikiran-pemikiran dasar yang mencerminkan PIPS sebagai salah satu disiplin ilmu. Landasan-landasan tersebut antara lain :
Ø Landasan Filosofis, memberikan aspek pemikiran yang mendasar untuk menentukan obyek kajian. Aspek-aspeknya meliputi :
·      Aspek ontologis: Pengembangan PIPS sebagai pendidikan disiplin ilmu.
·      Aspek epistemologis : bagaimana cara, proses atau metode membangun dan mengembangkan PIPS.
·      Aspek aksiologi: Apa tujuan dan manfaat dari PIPS
Ø Landasan Ideologis, sebagai sistem gagasan mendasar yang memberi pertimbangan dalam  menjawab berbagai pertanyaan seperti keterkaiatan antara das sein PIPS sebagai pendidikan disiplin ilmu dan das sollen PIPS.
Ø Landasan Sosiologis, memberikan sistem gagasan mendasar untuk menentukan cita-cita , kebutuhan, kepentingan, kekuatan, aspirasi, serta pola kehidupan masa depan
Ø Landasan antropologis, memberikan sistem gagasan-gagasan mendasar dalam menentukan pola, sistem dan struktur pendidikan disiplin ilmu
Ø Landasan kemanusiaan, memberikan sistem gagasan mendasar untuk menentukan karakteristik ideal manusia sebagai sasaran proses pendidikan
Ø Landasan politis, memberikan sistem gagasan mendasar  untuk menentukan arah dan garis kebijakan dalam politik pendidikan dari PIPS
Ø Landasan psikologis, memberikan sistem gagasan mendasar untuk menentukan cara-cara PIPS membangun struktur tubuh disiplin pengetahuannya baik dalam tataran personal maupun komunal.
Ø Landasan Religius, memberikan sistem gagasan mendasar tentang nilai-nilai, norma, etika dan moral yang menjadi jiwa (roh) yang melandasi keseluruhan bangunan PIPS, khususnya pendidikan Indonesia.




BAB III
PENUTUP
Ilmu pengetahuan Sosial pertama kali dikenal sejak diberlakukannya kurikulum 1975 baik di tingkat dasar maupun menengah. IPS  sendiri memiliki keunikan yang terletak pada sifatnya yang terpadu (integrated) dari sejumlah mata pelajaran sosial lainnya.  



DAFTAR PUSTAKA
Dr.Sapriya, M. (2009). Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Rosda Karya.